ALICE'S WONDERLAND

Translate

Rabu, Mei 22, 2013

Books "THE CHILD THIEF"


Books "SI PENCURI ANAK"
Judul Asli : THE CHILD THIEF
Copyright © 2009 by Brom
Cover & inside illustration by Brom
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Tanti Lesmana
Cetakan I : Oktober 2012 | 936 hlm
Rate : 4 of 5

 New York City – kota gemerlap yang tak pernah tidur, padat dan sarat dengan aneka kesibukan serta penghuni dari berbagai kalangan. Tampak di bagian puncak suatu kehidupan yang penuh kemewahan serta aneka hiburan, namun di sisi lain, di bagian bawah yang tersembunyi, kehidupan kumuh serta sarat akan kejahatan turut beraksi mewarnai dunia glamour yang tampak dari penampilan luar. Keadilan dan kebenaran merupakan hal yang langka, karena hanya segelintir orang yang cukup peduli untuk bersedia melakukannya. Dan sosok-sosok yang paling sering terlupakan adalah anak-anak, yang tak memiliki perlindungan secara hukum dari kejahatan yang merajalela. Mulai dari penganiayaan, pelecahan seksual, perdagangan obat terlarang, hingga eksploitasi pada’human-trafficking’ ...tiada satu pun yang dapat melindungi dan menolong mereka, hingga suatu saat muncul ‘malaikat-keadilan’ yang memberikan penawaran yang tak dapat ditolak.



Sosok bocah aneh bernama Peter, dengan tubuh berbalut semacam pakaian dari kulit berwarna gelap, memiliki telinga runcing serta aksi bela diri yang luar biasa, muncul di saat-saat yang tepat, dimana bocah-bocah yang terdesak, terancam, dan selalu ketakutan dalam hidupnya. Peter menawarkan perlindungan sekaligus penawaran akan suatu tempat yang jauh lebih menyenangkan dan jauh dari oarng-orang yang menjadi sumber katakutan serta kengerian sepanjang hidup para bocah ini. Mereka harus dengan sukarela mengikuti Peter, dan melihat bayangan masa depan yang suram sekaligus mengerikan, sebagian besar langsung mengiyakan untuk ikut serta – yang mereka tidak ketahui, tempat dimana Peter akan membawa mereka berada di dunia yang sama sekali berbeda, dan tidak ada jalan kembali untuk ke dunia asal masing-masing.

Nick adalah salah satu dari sekian banyak bocah yang ‘dibawa’ oleh Peter melangkah ke suatu tempat yang aneh sekaligus menakutkan. Pada awalnya tempat baru dimana ia bertemu dengan segerombolan bocah yang liar namun anehnya juga menuntut perlakuan disiplin serta latihan bela diri yang intensif, cukup membuat Nick mampu sedikit melupakan masa lalunya. Namun seiring dengan waktu serta kebersamaannya dengan anak-anak Iblis – julukan gerombola anak buah Peter, Nick merasakan sesuatu yang berbeda terjadi pada di dalam dirinya. Pergolakan antara kegelapan dan kebajikan di dalam benaknya, terutama saat Nick terlibat lebih jauh dalam konflik antara manusia yang dijuluki Kaum Pemakan Daging serta Penghuni Avalon, yaitu elf, troll, goblin, peri hutan, penyihir serta hewan jejadian. Semakin lama Nick mampu melihat ‘sisi’ lain dari konflik berkepanjangan yang tak pernah terlihat atau tidak mau dilihat oleh Peter maupun para pemimpin di dunia Avalon. Nick pergi meninggalkan dunianya karena tak mau terlibat dalam tindak kejahatan serta perlakuan keji, namun pada akhirnya ia justru melarikan dir ke suatu tempat yang penuh gejolak akan amarah, dengki, serta dendam kesumat yang mampu meluluh-lantakkan segenap kehidupan yang ada. Bagaimana Ia akan mampu mengatasinya terutama jika ia harus berhadapan dengan Peter ?

Sebuah kisah yang cukup unik, hasil interpretasi dari kisah klasik Peter Pan karya J.M. Barrie yang dikombinasi dengan imajinasi serta wawasan luas dari sang penulis tentang legenda serta mitologi. Bagi Anda terutama generasi muda yang belum mengenal karya asli Peter Pan, jangan membayangkan bocah yang bisa terbang dengan kawanan Lost Boys dan peri Tinker Bell melawan Kapten Hook, karena itu merupakan hasil interpretasi dari Walt Disney. Karya asli J.M. Barrie merujuk pada sisi kelam sosok Peter Pan yang ‘menculik’ anak-anak sebagai teman permainan, tak memiliki perasaan atau nurani terhadap kebenaran maupun rasa kemanusiaan. Dan Brom mengungkap sisi kelam tersebut namun juga memberikan sentuhan tersendiri yang cukup memukau, dimulai dengan kisah latar belakang kelahiran Peter yang ditolak oleh ibu kandungnya, tak diketahui siapa ayahnya, dimusuhi dan diburu oleh kawanan manusia, terlunta-lunta di hutan yang liar dan bertahan hidup serta beradaptasi dengan dunia yang keras, liar dan ganas semenjak usia sangat dini. Hingga ia menemukan bentuk kehidupan lain yang berlawanan dengan perjalanan kisahnya, terjerat dalam sihir hingga bersedia berkorban ‘jiwa’ demi apa yang menjadi pegangan hidupnya.

Brom mampu membuat gambaran unik melalui karakter setiap tokoh kisah ini, perjalanan hidup masing-masing, baik pihak antagonis maupun protagonis mendapatkan perlakuan sama, hingga pada akhirnya tiada perbedaan nyata di antara mereka. Yang menentukan hanya siapakah yang bertahan  hingga akhir kisah, dan siapakah yang akhirnya menyadari kebenaran yang ada di dalam lubuk hati masing-masing. Sosok terpandang seperti para pemimpin suku hingga pendeta tinggi Kristiani yang mengalami kejatuhan moral hingga kegilaan memangsa mereka, ataukah sosok berandalan tak beragama dan kaum terkutuk pemeluk pagan yang masih bisa mengampuni kejahatan orang lain dan melihat kebaikan dari rangkaian kejadian yang mengerikan... Disertai dengan aneka ilustrasi yang menawan karya sang penulis, pembaca akan dibawa ke dalam dunia fantasi, yang anehnya tidak terlalu jauh dengan dunia manusia, dunia yang kita jalani saat ini. Penggemar fiksi kategori high-fantasy dan dark-fantasy tak boleh melewatkan kisah ini begitu saja, kisah yang bakal membuat kita penasaran semenjak awal hingga akhir. Dengan ending yang cukup mengejutkan, kisah ini memberikan kesan tak terlupakan serta pesan moral yang cukup dalam.
“Dongeng-dongeng zaman dahulu merupakan kisah-kisah suri-tauladan yang sarat dengan akhir cerita menakutkan, yang bertujuan untuk memberikan pelajaran-pelajaran keras bagi kaum muda maupun yang sudah tua. Saya sendiri meyakini bahwa semua dongeng dan legenda itu dipicu oleh sebuah peristiwa nyata, orang yang benar-benar ada, atau... sesuatu.” –Brom, 20 Februari 2009
Tentang Penulis :
Gerald Brom, lahir pada tanggal 9 Maret 1965 di Albany, Georgia, Amerika. Masa kecilnya dihabiskan di berbagai tempat karena pekerjaan ayahnya sebagai pilot U.S. Army yang sering kali harus pindah-tugas ke berbagai wilayah serta negara yang berbeda, mulai dari Hawai, hingga Jerman dan Jepang. Dibesarkan dalam lingkungan militer, ia terbiasa dikenal dan dipanggil dengan nama belakangnya : Brom, dan hal itu menjadi kebiasaan hingg dewasa ia hanya menandatangani identitasnya dengan Brom ( “I get that asked more than just about any other question. It's my real name, my last name. I got called Brom all the time as a kid, and it just stuck." ).

Hal lain yang mencari ciri khasnya adalah kegiatan menggambar dan melukis yang menjadi kegemarannya semenjak kanak-kanak. Ia tak pernah mendapat pendidikan formal secara khusus dalam bidang seni, namun bakat serta latihan rutin yang dilakukannya menghasilkan karya-karya menakjubkan yang digunakan sebagai ilustrasi komik, graphic novel, hingga permainan games. Bahkan sebelum ia memutuskan menulis kisahnya sendiri, karya ilustrasinya banyak mewarnai novel fantasi karya penulis ternama seperti Terry Brooks, Anne McCaffery dan Michael Moorcorck.  Kini ia dikenal sebagai seniman yang memiliki kekhususan dalam seni ‘gothic-fantasy’ dan juga aktif dalam kegiatan ‘role-playing-games’ serta penulisan novel dan komik.

[ more about the authors and related works, check on here : Gerald Brom | Brom's Art-Works | The Child Thief | on Wikipedia  ]

~ this post review is Reblogged from 'My Fantasy Dreamland' ~

Best Regards,
* Hobby Buku * 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar